Situs Akan di Alihkan ke BLOG.TAMORANEWS.COM, Space Iklan Murah Email to : admin[at]tamoranews.com or 235FD217.

Nasib malang menimpa empat santriwati asal Pesantren Darul Aman, Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan. Keempat santriwati tersebut meninggal dunia saat mengikuti kegiatan perkemahan di Pondok Pasantren Darul Ihsan Cipo Takari Sidrap, Jumat 26 April 2013.

Keempat santriwati tersebut adalah Ayunita Nurul Isyah (15 tahun), Anna Muhlisa (15 tahun), Sulfi Dwi Ardianti (13 tahun) dan Maghfirah (13 tahun). Mereka meninggal setelah tenggelam di waduk Desa Cipo Takari, Kabupaten Sidenreng Rappang, sekitar area Pesantren Darul Ihsan.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Polisi Endi Sutendi, mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WITA. Empat santriwati itu berada dalam satu grup dan tengah mengikuti kegiatan field trip dengan jalur melintas di waduk tersebut.

“Dugaan sementara mereka terkena pusaran air, sebab tiba-tiba terjatuh dan menghilang,” kata Endi. Satu santriwati meninggal di waduk, sedangkan tiga orang lainnya meninggal saat tiba di Rumah Sakit Umum Daerah Sidrap untuk mendapat pertolongan medis

Empat santriwati itu diduga tidak ada yang bisa berenang sehingga tidak bisa apa-apa saat tenggelam. Sejumlah pembina yang berusaha menyelamatkan para korban juga tidak berhasil. Tim hanya berhasil menyelamatkan lima orang yang saat ini masih menjalani perawatan di RSUD Sidrap.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan perkemahan yang diikuti oleh Pondok Pesanten Gombara tersebut merupakan kerja sama dengan Pondok Pesantren Darul Ihsan Cipo Takari Sidrap.

Waduk di sekitar Ponpes Darul Ihsan tersebut merupakan salah satu lokasi yang dijadikan jalur field trip. Waduk itu memiliki luas sekitar satu hektar, dengan kedalaman antara satu meter di bagian bibir waduk, serta di atas dua meter di bagian tengah waduk.

Ratusan siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terpaksa menggelar Ujian Nasional (UN) pada Kamis sore, 18 April 2013.

Itu dilakukan lantaran lembar soal yang ditunggu sejak pukul 08.00 pagi, baru tiba sekitar pukul 14.00 WITA. Ujian pun baru bisa digelar sekitar pukul 15.30 WITA.

Meski menunggu hampir tujuh jam, ratusan siswa tersebut tetap berupaya maksimal untuk menyelesaikan soal-soal UN. "Kami sudah kecewa sejak UN ditunda. Pas hari ini, ternyata kondisinya juga harus menunggu sampai sore. Makanya pasrah saja, karena kondisi ini sangat mengganggu mental kami," kata Saharuddin, salah seorang siswa SMA negeri 1 Gowa.

Masalah ternyata belum selesai. Pasalnya saat lembar soal mulai dibagikan, soal mata pelajaran Biologi itu ternyata kurang, atau tidak mencukupi dengan jumlah peserta ujian. Kondisi itu membuat sejumlah guru panik dan terpaksa menggandakan soal lalu dibagikan kepada peserta.

Menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Gowa, Andi Wartiah, UN di sekolahnya terlambat karena terkendala distribusi ke wilayah Gowa. "Makanya kami berharap, besok tidak terulang seperti ini lagi. Kalau bisa dipercepatlah," kata Andi Wartiah.

Kekacauan pelaksanaan UN juga terjadi di Kota Palopo. Di SMA 1 Palopo misalnya, karena mengalami kekurangan lembar soal, pihak sekolah terpaksa meminjam lembar soal dari sekolah lain yang telah menggelar ujian, atau menunggu foto copy dari sekolah lain. Kondisi serupa terjadi di SMA Frater, SMA Negeri 6 Palopo dan MAN Palopo.

Untuk SMA Negeri 1 Palopo meminjam soal ujian dari SMA Negeri 3 Palopo, kemudian SMA Frater meminjam soal dari SMA Kristen serta SMA Negeri 6 meminjam dari SMA Negeri 5 Palopo. Adapun MAN Palopo meminjam dari SMA Negeri 2 Palopo.

Di Kabupaten Bone, pelaksanaan UN juga mengalami penundaan hingga lima jam. Pasalnya sejumlah belum menerima kekurangan soal-soal yang diujikan hari ini. Mereka pun menunggu soal yang di foto copy oleh panitia setempat.

Melihat kondisi karut marut UN, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IKM) Fida Afif minta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencopot Mohammad Nuh dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan penghapusan Ujian Nasional (UN).

Tuntutan mundur dan penghapusan UN tersebut sebagai reaksi keras IKM atas keterlambatan pelaksanaan UN di 11 provinsi Indonesia Bagian Tengah.

Menurut dia, nilai proyek UN tahun ini yang mencapai Rp900 miliar, seharusnya semakin membaik kualitasnya. MUlai dari persiapan hingga pelaksanaan UN. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Kekurangan soal mewarnai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) hari pertama, untuk SMA sederajad di Sulawesi Utara, Kamis, 18 April 2013. Namun secara keseluruhan pelaksaan ujian di wilayah itu berjalan dengan lancar.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, Star Wowor kepada VIVAnews mengatakan, beberapa kendala kekurangan lembaran soal ujian terjadi di sekolah di daerah yang terpencil.

"Memang ada beberapa kendala untuk di daerah terpencil dan beberapa sekolah di kabupaten dan kota, ada terjadi kekurangan naskah ujian, namun diantisipasi dengan cara foto kopi lembaran soal," kata Wowor.

Terkait dengan indikasi adanya kebocoran naskah ujian, Wowor membantah, ia meyakinkan naskah ujian nasional tak akan bocor karena ada pengawalan dari pihak kepolisian

"Naskah tidak ada yang bocor, polisi terus mengawal. Hingga sekolah yang kekurangan naskah, saat pergi ke tempat fotokopi juga dikawal polisi," katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Kepolisian Daerah Sulawesi Utara (Polda Sulut) Ajun Komisaris Besar Polisi, Denny Adare saat dihubungi mengatakan, pihak Polda dan jajaran Polres hingga polsek turun untuk mengawal Naskah Ujian Nasional

"Setengah kekuatan dari pihak Polda dan Polres hingga Polsek turun untuk mengawal UN," katanya.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Kombes Purwadi tengah dirawat usai diberondong tembakan.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Kombes Polisi dr. Purwadi diberondong peluru oleh anggota polisi bernama Briptu IT di salah satu ruang rapat rumah sakit itu, Sabtu, 6 April 2013. Akibatnya, Purwadi mengalami dua luka tembak di bagian bahu kiri dan pangkal paha kiri.

Korban sempat dirawat di RS. Bhayangkara, namun tak berselang lama langsung dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Menurut Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Anwar Hasan, peristiwa penembakan terjadi sekitar pukul 15.15. Pemicunya diduga akibat kesalahpahaman antara Purwadi dengan IT terkait dengan proyek pembangunan RS. Bhayangkara.

"RS Bhayangkara sedang membangun bagian belakang yang kebetulan berseberangan dengan rumah dinas pelaku," kata Wakasat Reskrim Anwar Hasan.

Awalnya, pelaku masuk menghadap ke ruangan rapat RS Bhayangkara. Pelaku keberatan dengan adanya penggalian karena jalannya terganggu. Alasan lainnya, pelaku khawatir anaknya terjatuh ke dalam galian tersebut.

Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba pelaku keluar dan diduga mengambil pistol revolvernya. "Pelaku menembak tiga kali, yakni saat di luar pintu, di pintu, dan di dalam ruangan. Namun korban hanya luka di bagian bahu dan selangkangan," katanya, lagi.

Saat ini, korban masih dirawat di RS Wahidin untuk menunggu proses pengangkatan peluru. Sedangkan pelaku sudah diamankan di Polrestabes Makassar.

Jumlah tersangka kerusuhan Palopo, Sulawesi Selatan, Minggu, 31 Maret 2013, bertambah menjadi lima orang setelah polisi kembali menetapkan empat tersangka baru, hari ini. Kelima orang tersebut kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres setempat.

Menurut Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Polisi Endi Sutendi, empat tersangka baru adalah AT, SUH, SU, dan WS. Dari keempat tersangka tersebut, satu diantaranya, AT, diduga penggerak utama sehingga terjadi pembakaran sejumlah gedung di Palopo.

“AT yang berteriak, 'ayo serbu dan ayo bakar.' Tak lama berselang, gedung kantor Golkar terbakar,” kata Endi Sutendi kepada VIVAnews, Selasa sore.

Endi menambahkan, keempat tersangka baru tersebut ditangkap setelah polisi mengembangkan keterangan tersangka M alias I, yang ditangkap sehari sebelumnya. Polisi juga berhasil mengidentifikasi satu tersangka tersebut berdasarkan rekaman handycam.

Lebih jauh, Endi menjelaskan, AT adalah tokoh utama dalam sejumlah aktivitas kerusuhan di Palopo. Sedangkan SUH, SU, dan WS diduga melempari dan merusak gedung Golkar.

Selain lima tersangka tersebut, polisi juga telah berhasil menangkap 1 orang lainnya, yang juga diduga kuat terlibat dalam kerusuhan di Palopo tersebut. Identitas terduga pelaku tersebut adalah RE, seorang mahasiswa perguruan tinggi setempat. RE saat ini masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Palopo

Endi juga mengatakan, masih ada sejumlah pemuda yang diduga kuat terlibat dalam pelemparan hingga pembakaran sejumlah gedung di Palopo. Mereka saat ini masih dalam pengejaran polisi.
Bayi korban peluru nyasar, Fathir Muhammad, meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Bayi malang itu dirawat di rumah sakit itu selama 1 bulan 8 hari setelah kepalanya tertembus peluru pada awal Februari lalu.


Bayi berusia 1 tahun tersebut meninggal dalam perawatan di ruang ICU RSWS Makassar.

Tante Fathir, Muchlisa Riskyana, mengatakan, Fathir meninggal dunia sekitar pukul 23:50 Wita, Kamis jelang tengah malam, 7 Maret 2013. Ana, panggilan akrab tante Fathir juga tidak bisa berbicara banyak saat dihubungi melalui telepon.

“Fathir meninggal. Mohon doanya semua,” kata Ana sambil terisak.

Menurutnya, kondisi Fathir drop sekitar pukul 03:00 WITA, Kamis dinihari, setelah beberapa hari sebelumnya sempat membaik. Setelah drop, kondisi Fathir sudah tidak pernah membaik hingga meninggal dunia.

Jenazah Fathir dibawa ke rumah duka di Jalan Baji Gau, Makassar. Rencananya, Fathir akan disemayamkan satu malam dan akan dimakamkan pada Jumat, 8 Maret 2013.

Fathir terkena peluru nyasar pada tanggal 1 Februari 2013 lalu di rumahnya di Jalan Baji Gau Makassar. Peluru yang bersarang di kepalanya baru berhasil diangkat oleh tim dokter RSWS setelah memasuki hari ke-17 menjalani perawatan. Sejak itu, kondisi Fathir sempat membaik, namun kembali drop hingga nyawanya tak terselamatkan lagi.
Kerusuhan terjadi di Kota Sumbawa Besar, Selasa 22 Januari 2013. Kejadian ini bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Sumbawa ke-54. Ratusan orang melakukan perusakan dan membakar sebuah mobil di Desa Seketeng, Sumbawa.


Tidak hanya mobil, sebuah pura Suka Duka yang terletak disamping PLN juga ikut dirusak massa. Massa yang tersulut emosinya melempari sejumlah falisitas umum di kawasan itu.

Kebid Humas Polda NTB, Ajun Komisaris Besar Sukarman Husein mengatakan, keributan sudah meluas menjelang sore ini. Ratusan orang melakukan pelemparan ke arah salah satu kampung yang masih menjadi tetangga mereka.

"Akan meluncur ke lokasi kejadian, jaraknya masih sangat jauh. Saya belum mendapat informasi yang pasti, sejauh ini keributan terjadi di Kecamatan Buil, Sumbawa," katanya kepada VIVAnews.

Kerusuhan ini berawal dari aksi ratusan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa menuntut polisi mengungkap fakta mengenai kematian seorang wanita yang tidak lain adalah rekan mereka.

Berbagai dugaan penyebab kematian korban menyebar ke masyarakat dalam berbagai versi. Tapi informasi mengenai kematian korban yang disebabkan karena aksi perkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oknum polisi di Sumbawa membuat masyarakat emosi.

"Yang saya terima sementara adalah kasus kecelakaan. Ada anggota berboncengan dengan kekasihnya mengalami kecelakaan. Pacarnya dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia. Itu pada Sabtu 23.00 WIB," katanya.

Kejadian itu kemudian berkembang dan menjadi isu perkosaan. Hingga sore ini, ketegangan masih terjadi di Sumbawa, puluhan orang berkelompok terlihat di setiap sudut jalan. Sebagian massa bahkan sudah ada yang mendekati kantor Bupati Sumbawa.
Kapal feri KM Dharma Kartika karam di Teluk Bone Kamis malam. Kapal yang mengakut lebih dari 100 penumpang itu karam sekitar pukul 23.00 WITA, Kamis 24 Januari. Lokasi kecelakaan berjarak 3 mil dari Pelabuhan Bajoe, Bone, Sulawesi Selatan.


Koordinator Badan SAR Nasional (Basarnas) Bone, Basri Taufan, mengatakan beberapa menit setelah mendengar laporan, tim langsung bergerak untuk mengevakuasi para penumpang. Tim terdiri dari Basarnas Bone, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bone, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP), Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), Polsek Pelabuhan Bajoe, dan warga.

“Tim menggunakan kapal feri KM Musima, sekoci milik KM Darma Kartika, serta sejumlah kapal nelayan,” kata Basri Taufan kepada VIVAnews, Jumat 25 Januari 2013. Operasi evakuasi tim SAR ini selesai sekitar pukul 03.00 WITA dini hari tadi.

Lebih dari 100 orang berhasil dievakuasi dan dibawa kembali ke Pelabuhan Bajoe. Sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, KM Dharma Kartika yang menuju Kolaka, Sulawesi Tenggara, karam setelah menabrak karang di perairan Teluk Bone, setelah sekitar 1 jam bertolak dari Pelabuhan Bajoe, Bone.

Saat kapal karam, penumpang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Syukurlah penumpang berhasil dievakuasi. Selain mengangkut penumpang, kapal tersebut juga mengangkut sejumlah truk ekspedisi dan bus.
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror bersama dengan Polres Poso, Sulawesi Tengah kembali menggelar operasi pemberantasan terorisme Jumat pagi, 1 Februari 2013. Dalam operasi tersebut, tim menemukan sejumlah benda yang diduga bom rakitan.


"Anggota Polres Poso, Gegana datangi lokasi, dan temukan 12 benda yang menyerupai bom pipa," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto di Mabes Polri, Jakarta.

Agus menuturkan bahwa penemuan tersebut diawali dari informasi dari masyarakat. Mereka memberitahukan tentang adanya beberapa benda mencurigakan di sekitar perkebunan Gunung Mungko Lama, Kelurahan Poso.

"Sekitar pukul 09.00 Wita kemudian dilakukan olah TKP penemuan dugaan benda yang diduga bom pipa itu," ujarnya. Agus menjelaskan kegiatan olah TKP selesai sekitar pukul 11.00 Wita. 

Hingga kini, kepolisian belum tahu siapa pemilik kebun, di mana bom rakitan itu ditanam. Barang bukti langsung diamankan ke kantor Polres Poso untuk penyelidikan lebih lanjut. "Panjang benda tersebut 10 sampai dengan 15 cm. Ditanam di tanah," katanya.
Lima mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari tiga universitas dilaporkan hilang di Pegunungan Ganda Dewata, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kelima pendaki tersebut adalah Muhammad Muksin dari Universitas Al-Asyariah Mandar, Awaluddin dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) serta Ilham, Nurhidayat dan Farhan, dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar.


Menurut Kordinator Mapala UIN Alauddin, Nur Hidayat, hingga Rabu 6 Februari 2013 pagi ini mereka masih kehilangan kontak dengan kelima pendaki gunung tersebut. Nur Hidayat khawatir, sebab mereka seharusnya sudah balik ke Mamasa sejak tanggal 31 Januari lalu.

"Mereka mulai dari Mamasa tanggal 23 Januari dan harusnya mereka sudah kembali. Tapi sampai saat ini mereka masih belum diketahui keberadaannya," kata Nur Hidayat, Rabu, 6 Februari 2013.

Menurut perkiraan sementara, para pendaki hilang di sekitar ketinggian 2.700-an mdpl. Kelimanya diduga tersesat karena faktor cuaca ekstrem di wilayah Pegunungan Ganda Dewata tersebut.

Nur Hidayat mengatakan tujuan kelima mahasiswa mendaki gunung tertinggi di Sulawesi Barat itu untuk pengumpulan data sekaligus ekspedisi.

Terkait dengan itu, pihaknya mengatakan tengah menuju Kabupaten Mamasa bersama sejumlah organisasi Mapala lainnya untuk melakukan pencarian.
Copyright © 2010 - 2014. Demo - All Rights Reserved
Hosting by : Blogger - Nazuka.net
Template inspired by detikcom
Editing by TAMORANETWORK