Situs Akan di Alihkan ke BLOG.TAMORANEWS.COM, Space Iklan Murah Email to : admin[at]tamoranews.com or 235FD217.

Kasus pencabulan yang dilakukan Emayartini alias May (38), terhadap tujuh remaja di Perumnas Kopri, Kelurahan Bentiring, Kecamatan Muara Bangkahulu, Bengkulu, sempat diselesaikan secar adat. Kasus ini terbongkar setelah salah satu orang tua korban melapor kepada polisi.

"Upaya damai dari keluarga pelaku bersama tokoh agama dan tokoh adat, sebelum laporan. Kemudian dinyatakan bahwa kasus ini diambil alih tokoh adat dan agama. Namun, sebagian warga menolak," kata Kasat Reskrim Polres Bengkulu Kota, AKP Dwi Citra Akbar kepada VIVAnews.

Akbar menjelaskan, setelah dilakukan musyawarah, banyak warga terutama kelurga korban menolak upaya damai terkait kasus ini. Sebagian besar warga kemudian berusaha untuk menghakimi pelaku.

"Cuci kampung dan diusir, tapi polisi langsung mengamankan pelaku ke polres dan kami jemput suaminya. Jadi belum ada upaya damai karena belum ada hitam di atas putih. Namun, kasus ini sudah dilaporkan dan kami lakukan upaya penahanan," katanya.

Kasus pencabulan yang dilakukan May sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Kejadian ini terbongkar setelah salah satu korban mengeluh kepada orang tuanya karena sakit pada kelaminnya. Pada Senin, 15 April 2013, salah satu orang tua korban melaporkan kasus ini kepada polisi. Korban rata-rata berumur belasan. Bahkan ada yang masih berusia 14 dan 15 tahun. "Sementara korban ada tujuh orang. Salah satu ibu korban yang melapor ke polisi," kata Akbar lagi.

Kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur, kian memprihatinkan. Di Bekasi, Jawa Barat, akibat pengaruh film porno, WSN (8 tahun) nekat melakukan pelecehan seksual terhadap SAZ (3 tahun), bocah perempuan yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.

Peristiwa memilukan itu terjadi di rumah pelaku, di Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Minggu 7 April 2013 sekitar pukul 20.00 WIB. Ketika itu korban sedang bermain di rumah pelaku yang tengah sepi.

Sebelum melakukan pelecehan, pelaku WSN sempat menonton film porno. WSN mencabuli korban dengan cara memasukkan jari tangannya ke kemaluan dan anus balita teebut.

Kasus itu terkuak, setelah orangtua korban mengetahui anaknya selalu menangis kesakitan ketika buang air. SAZ mengaku anus dan kelaminnya terasa sakit. Ketika ditanya kenapa dua organ vital itu sakit, SAZ mengatakan, akibat dimasuki jari tangan WSN.

Orang tua korban yang marah, kemudian menanyakan kebenaran apakah pelaku telah melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya. Setelah didesak, WSN akhirnya mengakui perbuatannya.

Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polresta Bekasi Kota pada hari Kamis 11 April 2013. Laporan tercatat dengan nomor LP/969/K/IV/SPKT/Resta Bekasi Kota.

Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota AKP Dubbel Manalu mengatakan, laporan itu masih didalami. Korban telah menjalani visum.

Untuk penanganan kasus itu, polisi akan bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan atau Komisi Nasional Perlindungan Anak. "Kasusnya masih diselidiki," kata Dubbel, Jumat 12 April 2013.

Sebelumnya, kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur juga terjadi sebulan lalu di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Pelakunya DL (35) dan korbannya anak perempuan berinisial NM (6). Kasus itu ditangani oleh Polresta Bekasi Kabupaten.

Kejadian berawal saat tersangka mengajak mancing dan memaksa korban menonton film porno pada Senin 11 April 2013. Selanjutnya, DL mengajak NM ke warung nasi yang menjadi tempat kerja pelaku. Kemudian, di sanalah DL mencabuli NM. Tindakan pelaku tersebut dipergoki warga.

Warga yang marah mengamankan DL dan menyerahkan pelaku ke petugas Polsek Tarumajaya. Korban juga telah dimintai keterangan dan menjalani visum.
MEDAN - Dua kali kehilangan tahanan karena kabur, jabatan Kepala Kejaksaan Negri (Kajari) Medan terancam dicopot. Kepala Kejati Sumut akan mengevaluasi seluruh kinerja kepala hingga staf di Kejari Medan. Kajatisu Noor Rochmat membenarkan akan segera mengevaluasi kinerja pucuk pimpinan di Kejari Medan yang dipimpin Bambang Riawan Pribadi.

"Ya pastilah akan kita evaluasi Kajari Medan. Namun saat ini masih dalam penyidikan yang dipimpin langsung oleh Aspidum. Senin depan surat akan saya keluarkan ke Aswas untuk segera memeriksa seluruh yang terkait termasuk Kajari Medan," ujar Noor Rochmat, Jumat (15/3).

Noor Rochmat menjelaskan pihaknya kini terus memburu Dedi dan apabila ditangkap Kejati Sumut akan menjerat terdakwa dengan dakwaan yang lain dari perkara pertama. "Ya pastinya kita akan mendakwa dan menuntut terdakwa dengan pasal menyulitkan pihak jaksa dalam menyelesaikan perkara hukum. Masalah hukuman berapa hakim lah itu nanti," katanya.

Disinggung soal pengamanan para tahanan saat dijemput di Rutan Tanjung Gusta, Noor Rochmat mengatakan bahwa pengamanan telah berlakukan begitu ketat. Seluruh tahanan yang dijemput maupun hendak disidang semuanya telah diborgol. "Yah mungkin ini memang sudah apes. Sudah diborgol dan dipakaikan baju tahanan bisa juga lari. Begitupun akan kita usut dan selidiki kasus ini," ujarnya.

Noor Rochmat menjelaskan, informasi yang diperolehnya dari Aspidum menyatakan pada saat kejadian terdakwa Dedi Syahputra alias Milo tersangkut perkara kepemilikan narkotika 0,02 gram tersebut lari ketika menunggu sidang di lantai III PN Medan. Tangan yang telah diborgol juga diketahui terlepas dan dapat hilang dari pantauan waltah yang berstatus honorer di Kejari Medan.

"Dari hasil penyidikan Aspidum, itu borgol lepas, dan waltah honorer itu juga kecolongan. Sementara Yunitri jaksa yang menangani kasus terdakwa pada saat itu turun kebawah untuk melengkapi berkas dan menitipkan pada waltah itu," katanya.

Sebelumnya, Kajari Medan, Bambang Riawan Pribadi saat dimintai komentarnya perihal tahanan lari untuk kedua kalinya dimasa kepemimpinannya mengatakan, pihaknya sendiri sebenarnya sudah tidak henti-hentinya memberikan breafing kepada seluruh pengawal tahanan untuk mengawal dan pengharusan pemborgolan terdakwa selama berada di lingkup pengadilan.

"Dari total 20 pengawal tahanan yang bertugas di Kejari Medan, kami pernah melakukan pemaksimalisasian dan ditambah empat orang petugas kepolisian di PN Medan. Saya pernah mengajukan permintaan setelah Sharen lari. Tetapi mungkin keterbatasan atau belum ada, namun kami akan coba lagi. Tetapi penambahan Waltah akan disampaikan kepada pimpinan (Kajati Sumut)," urai Bambang.

Sementara itu, Kasipidum Kejari Medan Dwi Agus, menyatakan kejadian tersebut adalah musibah bagi institusi pihaknya. "Jadi memang tadi sekitar jam 16.00 WIB, kami mendapatkan info dari JPU yang menginformasikan ada satu terdakwa atas nama Dedi Syahputra alias Milo, melarikan diri dari ruang sidang di PN Medan," ujar Dwi Agus.

Dirinya mengatakan, larinya Dedi saat salah seorang terdakwa bernama Juliadi melihat Dedi berusaha melepaskan borgol ditangannya. Juliadi sendiri kata Dwi yang berteriak kepada pengawal tahanan menginformasikan adanya tahanan lari. Namun, pihaknya menyayangkan sikap Juliadi yang tau tapi hanya membiarkan proses itu berlangsung.

"Pada saat melarikan diri protab sudah dijalankan dan terdakwa keluar dari ruang tahanan ke sidang mengenakan baju tahanan dan kondisi tangan terborgol. Informasi dari kawan disebelahnya (terdakwa lain), sempat melihat borgol terdakwa sudah posisi terbuka dan dialah yang memberitahukan tahanan itu melarikan diri," jelasnya.

Setelah mendapat informasi tersebut, kata Dwi, sempat pula terjadi kehebohan di lantai III itu. Larinya Dedi yang bekerja wiraswasta ini, diakui Dwi tidak diperhitungkan sama sekali. Hal itu dikarenakan protab sudah dijalankan dengan pengamaanan full kapasitas termasuk terdakwa mengenakan baju tahanan dan kondisi tangan diborgol.

"Kita belum mau berspekulasi bagaimana dia membuka kunci borgol itu. Tetapi setelah lepas dan membuka baju tahanan, terdakwa berbaur dengan pengunjung sidang sangat susah diidentifikasi lagi. Sempat upaya pengejaran dilakukan ke depan tetapi tidak dapat," urainya.(David/SZN)
BEKASI - Kedatangan team penghancur dari pemkab bekasi kamis (21/3) Pkl : 11.00 Wib disambut teriak tangis histeris jemaat HKBP Setu ditaman sari kabupaten Bekasi dengan menggunakan Buldoser untuk meratakan bangunan fermanen yang berdiri pada tahun 1999 ini.pasalnya bangunan yang berdiri ini dituding oleh sekelompok oknum tidak mempunyai izin bangunan dari pemkab bekasi serta izin dari warga setempat.Sementara itu dari pihak gereja HKBP Setu Pdt.A.Nababan,Sth pimpinan resort melalui kontak via telepon memaparkan kejadiannya kepada wartawan bahwasanya pihak gereja sudah mengantongi izin dari warga setempat didalam pembangunan gereja HKBP Setu di bekasi.

Sementara itu melalui keterangan ormas Kristen Barisan Muda Damai Sejahtera Sumut Sekjen DPD BMDS SUMUT Parulian Sihombing,SE didampingi Ketua Harian DPD FKB Forum Kristen Bersatu Sumut Frangky Manalu menyatakan kepada wartawan dikantor secretariat di Medan didalam jumpa pers.menyatakan sangat prihatin atas sikap pemkab bekasi yang mengambil sikap tindakan bejatnya terhadap jemaat HKBP SEtu serta mengutuk mereka yang menghancurkan bangunan gereja tuhan dan ini sudah terlalu melampauin batas nilai nilai norma etika Bergama dimana Undang Undang SKB 3 menteri tidak mengacu kepada HAM dan berketuhanan dinegara NKRI dan ini perlu kajian ulang oleh pemerintah didalam kebebasan beragama di Indonesia,ujar Parulian Dalam komentarnya ungkap frangky jangan Undang Undang dijadikan tameng untuk memaksakan sesuatu kehendak didalam menganut suatu agama karna setiap warga Negara berhak menganut agama apapun di Negara NKRI ini terserah mereka mau menyembah batu ataupun gelas sekalipun.

"Menurut Perda Nomor 7 Tahun 1996, jika ada bangunan yang diperlukan atau berguna bagi orang banyak belum mendapatkan izin, proses perizinan itu bisa disusulkan.dan ini sudah jelas bagi pemkab bekasi untuk mempertimbangkannya jangan menjadi buta akan undang undang. Dalam mengajukan proses perizinannya, HKBP Setu telah mendapat persetujuan dari 85 warga yang berada di lingkungan gereja, Jalan MT Haryono, Gang Wiryo, RT 05 RW 02, Taman Sari, Bekasi. 

Menurut undang-undang, diperlukan 60 surat ketidakberatan dari warga sekitar jika ingin mendirikan rumah ibadah.sementara itu pihak gereja sudah menaati peraturan yang berlaku dalam undang undang tersebut dengan mengantongi izin dari warga setempat.dalam penambahannya sudah jelas undang undang yang diciptakan tersebut untuk ditaatin dan bukan dilanggar ,oleh karna itu pemkab Bekasi seharusnya jeli terhadap persoalan tersebut jangan menutup mata dan jangan menghancurkan segala sesuatunya tanpa alasan bukti yang kuat karna di Negara Republik Indonesia ini bukan dimiliki 1 agama saja melainkan 6 agama tanpa ada tekanan paksaan dan intimidasi dari pihak manapun dan segala sesuatunya mempunyain aturan hukum yang berlaku. (SZN)
MEDAN : Sidang lanjutan perkara kredit tidak terpasang di BNI SKM Medan kembali digelar di Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (20/3). Pada sidang kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi ahli dari Bank Indonesia (BI) Pusat, Rahmat Rianto yang bertugas sebagai pengawas Bank. Adapun terdakwa yang hadir yakni Darul Azli selaku Pimpinan Kelompok Pemasaran Bisnis BNI Pemuda Medan dan Radiyasto selaku Pimpinan SentraKredit Menengah BNI Pemuda Medan dan Titin Indriani selakuRelationship BNI SKM Medan.


Di hadapan majelis hakim yang diketuai Erwin Mangatas Malau, saksi mengaku pihaknya sebagai Pengawas Bank tidak memiliki kewenangan untuk terlalu mencampuri persyaratan internal yang dimiliki bank-bank umum,terkait persyaratan pengajuan kredit. Begitupun saksi ahli mengaku,dalam mengajukan kredit tidak ada ketentuan yang mengatur barang yang akan diagunkan harus atas nama pemohon. Begitu juga terkait takeover,menurut saksi ahli, BI tidak ada mengatur secara khusus hal tersebut.“Tidak harus ada peralihan kepemilikan dulu. Yang penting adalah adaobjek yang dibiayai dan berpotensi keuntungan. Soal teknis pengkreditannya, itu diatur oleh internal bank itu sendiri,” jelasnya.

Sebagai regulator, lanjutnya, BI berkewajiban melakukan pengawasan melalui instrumen untuk melakukan koreksi dan pembinaan terhadap bank.Dalam persoalan kredit, BI mewajibkan bank-bank memiliki beberapa hal yang dianggap minimal yang harus dimiliki bank, sebelum memberikan kredit atau memasarkan produk kredit.“Untuk kredit, kita sudah mengatur berdasarkan surat direksi BI tentang kewajiban penyusunan, dan pelaksanaan, kebijaksanaan perkreditan bagi bank umum. Ketentuan ini diatur dalam SK Direktur BI No 27/162/Kep/Dir yang nanti akan saya serahkan pada persidangan,”ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, dalam SK tersebut ada beberapa poin penting yang pada prinsipnya mewajibkan agar bank memiliki ketentuan fungsional mengenai perkreditan. Beberapa hal yang konsern harus dibina yaitu, pertama kebijakan perkreditan yang dibuat bank harus memenuhi prinsip kehati-hatian dalam perkreditan. Kedua, harus ada organisasi dan manajemen perkreditan,jadi dia harus punya struktur untuk menjalan fungsinya sebagai pemberi dana kredit. Ketiga, harus memiliki kebijaksanaan untuk kepentingan kredit. Keempat, memiliki dokumentasi dan administrasi kredit.

“Kelima harus memiliki mekanisme dan pengawasan kredit. Dan keenam,wajib memiliki sistem penyelesaian kredit bermasalah. Semua bank harus memiliki ketentuan tersebut,” jelasnya. Sedangkan terkait legal formal diakui saksi tidak diatur oleh BI dengan jelas. “BI melakukan pengawasan berdasarkan resiko. Kita tidak mewajibkan Bank itu harus melangkah ke mana, tetapi mewajibkan harus melihat resiko melangkahnya itu dan bagaimana ketika ada potensi kerugian yang terjadi. Hal itu yang kita lakukan dengan melakukan sistem pengawasan berbasis resiko,” terangnya lagi. Setelah mendengar keterangan saksi, majelis hakim menunda sidang hingga Rabu (26/3) mendatang, dengan agenda saksi meringankan dari terdakwa. (SZM)
Medan - Malang benar nasib Ahmad Abrar (30), Muhammad Ikbal (25) dan Rapsan Jani (21). Tiga dari lima bersaudara ini menderita lumpuh layu sejak puluhan tahun lalu dan tidak pernah mendapat sentuhan medis.


Sebab, Muchlis Hamzah, ayah ketiganya hanya membuka bengkel sekitar 10 meter dari rumah tempat tinggal mereka di kawasan Jalan Karya Jaya Medan.

Diceritakan sang ibu Darliana, penyakit yang menimpa ketiga anaknya berawal dari demam dan step. Penyakit ini di alami ketiga anaknya sejak kecil dan berakhir ketika mereka memasuki sekolah dasar (SD).

“Saat itu datangnya tiba-tiba, kalau sudah demam panasnya tinggi sekali. Setelah di obati, jenis penyakit yang di sampaikan dokter beragam. Ada yang bilang folio, kurang gizi bahkan kanker tulang,” ujarnya.

Dirinya tidak pernah menyangka jika ketiga anaknya bisa mengalami penyakit seperti ini. Sebab menurutnya, saat lahir ketiganya dalam keadaan normal. Dia juga rutin membawa anak-anaknya untuk imunisasi. Begitu juga saat kelumpuhan datang, dia terus berusaha membawa ketiga anaknya berobat ke rumah sakit, namun tak kunjung sembuh.

"Jangankan kesembuhan yang di dapat, malahan setelah di bawa berobat ke rumah sakit kondisi ketiga anak saya semakin melemah. Penyakit yang di alami secara bersamaan ini menarik perhatian dokter dari Belanda. Dia memeriksa hasil tinja anak saya. Tapi sayangnya, sampai kini kami tidak tau asilnya karena tidak bertemu lagi dengan dokter itu,” katanya.

Kini mereka hanya bisa pasrah, mengingat sudah puluhan tahun berupaya mengobatinya. Tak satu pun yang dilakukan berbuah hasil. Padahal mereka tergolong masyarakat tidak mampu.

Kini, Abrar sang pemusik, Ikbal yang getol mencari uang dengan bekerja di bengkel membantu ayahnya, dan Jani yang suka sepak bola hanya bisa pasrah dengan kondisinya. Mereka mengaku hanya menjalani hidup apa adanya. Namun, jika nanti ada yang berupaya untuk mengobati, mereka akan menerimanya dengan bahagia. (BM)
Tersangka kasus pembunuhan terhadap Wanudya Minaula Ginting, diketahui adalah seorang gigolo. Polisi memastikan, pelaku utamanya adalah Erlangga Bakti (27) yang mempunyai inisiatif untuk membunuh korban. Sementara, tersangka lain, Arfan Makmur (29) bertugas sebagai eskekutor.

Ilustrasi

Direktur Kriminal Reserse Umum Polda Metro Jaya, Kombes Toni Harmanto mengatakan, awalnya tersangka Erlangga merasa sakit hati kepada korban.

“EB mengaku kekasih korban, baru lima bulan kenal dari BBM, dan intensif selama satu bulan dan sebenarnya dia ini adalah gigolo,” kata Toni, Kamis (14/3).

Toni menjelaskan, Erlangga mengaku teman kencan korban. Setiap kali kencan, Erlangga dibayar Rp2 juta oleh korban. “Setiap ingin berhubungan dibayar Rp2 juta,” ucapnya.

Pembunuhan terjadi lantaran korban mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati si pelaku. Polisi juga masih menelusuri sebab pasti hingga memancing niat pelaku untuk membunuh.

“Masih didalami kenapa kata-kata itu keluar, yang jelas setelah yang bersangkutan melakukan tugasnya, mungkin korban tidak puas, tapi itu masih kita dalami,” ujarnya.

Dari situ, timbul niat untuk membunuh korban. Korban kemudian mengajak Arfan Makmur untuk melakukan perbuatan itu.

Keduanya ditangkap setelah adanya penemuan jasad Wanudya di Apartemen Green Park View Tower F lantai 11 Nomor 22, kemarin sekira pukul 15.30 WIB. Polisi kemudian menangkap keduanya di dua lokasi yang berbeda, Erlangga di Japos Tangerang dan Arfan ditangkap di Pesanggrahan, Kebayoran Lama, dini hari kemarin.

Otak pembunuhan diketahui sebagai teman kencannya sendiri, Erlangga Bakti (27).

“Sementara peran pelaku lainnya, yakni Arfan Makmur hanya sebagai pembantu eksekusi saja. Yang nyimpan dendam itu Erlangga,” kata Kanit Reskrim Polsek Metro Cengkareng, AKP Khoiri.

Dari keterangan Erlangga, Wanudya dibunuh karena sering bersikap seenaknya kepada Erlangga. Bahkan, korban juga kerap mengeluarkan kata-kata kasar dan memaki pelaku.

Korban kerap berlaku seenaknya, kata Khoiri, lantaran merasa memiliki kelebihan dalam hal finansial dibanding pelaku. “Tersangka mengaku sering dimaki-maki dengan kata-kata kasar. Akhirnya tercetuslah rencana pembunuhan itu,” kata Khoiri.

Sementara, Arfan Makmur (29) yang merupakan eksekutor pembunuh Wanudya Minaula Ginting, dibayar oleh Erlangga Bakti (27) sebesar Rp5 juta.

Erlangga Bakti dan Arfan Makmur belum lama kenal, baru sekira dua bulan. Arfan Makmur merupakan teknisi servis AC di kawasan Cengkareng, sesekali dia juga bekerja di apartemen tempat korban tinggal.

” Rabu, kedua pelaku datang ke apartemen korban. Arfan Makmur dan Erlangga Bakti masuk, Arfan Makmur mencekik korban dan menghunus pisau dua kali ke perut. Korban pun jatuh. Arfan Makmur menahan korban, Erlangga Bakti kemudian membantu menutup mulut korban dengan seprai. Kemudian leher korban digorok dari sisi kanan,” cerita Toni.

Atas perbuatan ini, keduanya dijerat dengan Pasal 340 KUHP dan atau 338 KUHP. Dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup, maksimal hukuman mati.

Sementara, dari hasil otopsi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), korban pembunuhan di Apartemen Green Park View, Tower F Lantai 11 no 22, Cengkareng, Jakarta Barat, Wanudya Minaula Ginting (25) tengah hamil 6 bulan.

Kini jenazah putri dari seniman dan aktivis asal Surabaya Bambang Haryanto Ginting itu telah dimakamkan di TPU Bibis Karah, Surabaya, dekat rumah duka Jalan Karah Agung 4 No 16.

“Berdasarkan pemeriksaan visum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, korban sedang hamil 6 bulan saat dibunuh,” ujar Kepala Humas Polrestro Jakarta Barat, Kompol Titien Wirantina, saat ditemui di kantornya, Kamis (14/3).

Titin mengatakan, motif pembunuhan tersebut belum diketahui secara pasti. Kedua pelaku masih dalam pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya.

“Detail ceritanya belum tahu. Tapi yang jelas ini persoalan sakit hati,” katanya.

Dua pelaku pembunuhan yang diringkus polisi adalah Erlangga Bakti (27) dan Arfan Makmur (29), diamankan Rabu (13/3) malam di Japos, Tangerang dan Pesanggrahan, Kebayoran Lama. Keduanya mengaku sakit hati tapi belum jelas dalam hal apa. Tak ada benda berharga yang diambil dari tangan korban.

“Hanya mengambil HP korban,” sambung Kasat Reskrim Polres Jakbar AKBP Hengky Haryadi, saat dikonfirmasi, kemarin. Diduga Erlangga menjalin hubungan dengan korban.

Anak Tunggal Pecinta Seni

Semenjak ditinggal ayahnya Bambang Haryanto Ginting, Wanidya Minola Ginting memang sering merindukan sosok ayah. Pada status Facebook, Wanidya mengungkapkan kerinduannya terhadap sang ayah.

Almarhum Wanidya Minola Ginting menulis sebuah status di Facebook 4 Maret 2013. Status itu berbunyi,” Happy B’Day Bapak in Heaven.. Tawamu, Candamu, Kerasmu, Marahmu, Pelukanmu, Ajaranmu, Marahmu dan Semua Tentangmu akan Slalu kami simpan sebagai Kenangan. Putri Kecilmu ini Merindukan Pelukan Hangatmu.”

“Saya nggak ada firasat, karena saya selalu kontak dengan anak saya (Minola Ginting),” kata Ngesti Wiludjeng di rumah duka.

Ngesti tak berhenti meratapi nasibnya. Setelah ditinggal oleh suaminya pada September 2003 lalu, kini perempuan berkerudung ini harus ikhlas kehilangan anak semata wayangnya.

“Saya sudah ditinggal dua orang,” tutur perempuan yang juga seorang guru Geografi di SMA Ta’miriyah Surabaya ini sambil terisak.

Ngesti mengaku, tak percaya Wanidya Minola Ginting (25) tewas dibunuh.

“Saya masih tak percaya kejadian ini, pelakunya tega, tusuk-tusuk tubuh anak saya. Dan saya juga tidak bisa melindungi anak saya,” kata Ngesti.

Sambil terisak Ngesti menyesali dirinya yang tak bisa merawat anak semata wayangnya itu. “Dia kesakitan, ditusuk, saya nggak bisa merawat dia,” ratap Ngesti.

Para pelayat di rumah duka didominasi oleh para seniman lawas Surabaya. Hal ini disebabkan almarhum ayah Wanidya, Bambang Haryanto Ginting, dikenal sebagai seniman dan aktivis di kota tersebut. Wanidya dikenal sebagai anak yang penurut, santun dan hormat.

“Wanidya orangnya santun,” kata seniman dan penulis Henri Nurcahyo.

Wanidya Minola Ginting sempat disebut-sebut bekerja di Jak TV. Perempuan 25 tahun ini bukan awak media, melainkan bekerja di Event Organizer (EO) bidang kesenian.

Hal ini ditegaskan oleh ibu korban, Ngesti Wiludjeng. Anak semata wayangnya itu menuruni bakat almarhum ayahnya, Bambang Haryanto Ginting, yang bekerja di bidang seni.

“Setahu saya, anak saya (Wanidya Minola Ginting) bekerja EO kesenian, bukan di Jak TV. Saya kenal semua teman-teman kerjanya, saya juga tahu jadwal kerjanya. Selama dia di Jakarta, saya selalu kontak dengan anak saya ini,” kata Ngesti.

Beberapa rekan Wanidya mengatakan hal serupa. Beberapa waktu lalu, rekan Wanidya sempat berkunjung dalam kegiatan di Gedung Kesenian Jakarta. Menurutnya, Wanidya masih setia menjalankan profesinya yang turunan dari bapaknya itu.

“Seperti ayahnya, Dyah (sapaan Wanidya Minola Ginting), merupakan aktivis dan event organizer (EO) kesenian. Saya pernah bertemu Dyah di Galeri Kesenian Jakarta beberapa waktu lalu,” tukas Henry, salah satu rekan Wanidya.

Sementara, seorang kerabat menyebutkan, Wanidya kabarnya memang sempat diterima dalam tes kerja di Jak TV. Namun, Wanidya belum sempat menindaklanjuti perkembangan job-vacancy tersebut.

Wanidya Minola Ginting ditemukan tewas di Apartemen Green Park View, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (13/3).
Enam dari delapan hektar tanaman tebu siap panen di Jalan Imam Bonjol, Kel. Tenggurono, Kec. Binjai Timur dibakar orang tak dikenal (OTK), Kamis (14/3) pukul 16.30 WIB. Sebelumnya, di Desa Sialang Paku Namurube Julu, Dusun I, Kec. Kutalimbaru, Deliserdang, polisi terpaksa meletuskan puluhan kali tembakan untuk mencegah bentrokan warga dan karyawan PTPN II.

Ilustrasi
Terbakarnya lahan tebu itu membuat karyawan PTPN II dibantu 2 unit pemadam kebakaran sibuk melakukan pemadaman. Sementara, aparat kepolsian harus memblokir Jalan Diponegoro, sepanjang lebih kurang 1 kilo meter agar warga tidak memasuki areal.

Setelah melakukan penyiraman, secara perlahan api berangsur-angsur padam. Dan jalan tersebut kembali di buka oleh pihak kepolisian. Terlihat kepulan asap masih membumbung tinggi di langit-langit.

Asisten tanaman PTPN II AM Dasopang, melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Dia menduga ada orang yang sengaja membakar lahan tebu siap panen itu. “Begitu api mulai marak, kita langsung melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Kita memang menduga ada orang yang dengan sengaja membakar lahan tebu siap panen ini,” kata Dasopang.

Dia menambahkan, sejauh ini pihaknya terus berusaha memadamkan api agar tidak merambat ke lahan-lahan hingga mengenai rumah warga sekitar. “Kalau sejauh ini lebih kurang 6 hektar dari 8 hektar lahan yang hangus terbakar,” cetus pria berkumis ini.

Terpisah Kanit Reskrim Polsek Binjai Timur Ipda Rudi Lapian mengaku masih menyelidiki kasus ini dan telah berkordinasi dengan pihak Polres Binjai, guna mengungkap siap pelaku pembakaran tersebut. “Kita telah berkordinasi dengan pihak Polres, guna menyelidiki kasus ini,” tegas Rudi Lapian.

Siang, sebelum kejadian terbakarnya ladang tebu milik PTPN II, antara warga dan karyawan PTPN II nyaris adu fisik di Desa Sialang Paku Namurube Julu, Kec. Kutalim Baru, Kab. Deli Serdang. Suasana yang semakin memanas memaksa polisi yang melakukan pengamanan harus meletuskan tembakan ke udara hingga puluhan kali.

Informasi di lapangan, bentrokan fisik yang berujung diamankannya beberapa warga disana berawal ketika pihak PTPN II, hendak mentraktor tanaman palawija di lahan yang telah ditanami warga sekitar, Rabu (14/3) sore kemarin.

Melihat hal itu, warga melakukan aksi untuk menahan traktor. Namun aksi itu mendapatkan perlawanan dari pihak PTPN II. “Sempat ditahan traktor dan itu juga membuat mereka (PTPN II-red) berkumpul guna mengambil traktor mereka. Kabarnya ada tiga orang yang diamankan, tapi sudah dilepas lagi bang,” jelas Jay, warga sekitar.

“Kami nggak rela lah, tanaman kami ditraktor begitu saja,” sambung S. Boru Parangin-Angin.

Lantas warga pun ramai-ramai berkumpul guna mempertahankan tanaman mereka agar tidak diokupasi. Hal ini mendapat respon dari pihak dari PTPN II dengan mengumpulkan karyawannya. Kedua belah pihak saling berhadapan.

Beruntung petugas kepolisian cepat tiba di lokasi hingga adu fisik berhasil diredam. Hal ini membuat pihak kepolisian yang berjumlah puluhan orang melakukan pembubaran paksa. “Ada sekitar sepuluh kali polisi tembakan pistolnya agar kami bubar,” cetus wanita tersebut.

Bahkan, warga yang tidak mengetahui apa-apa sempat diamankan oleh petugas. Meski demikian petugas kembali melepaskan warga tersebut. “Kabarnya ada tiga orang yang diamankan di kantor polisi. Tak tak tahu juga, kepastiannya soalnya kurasa bukan orang sini yang diamankan. Dan ada juga yang sudah dilepaskan oleh polisi,” jelasnya.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian, apakah masih ada yang diamakan atau tidak dari lokasi bentrok tersebut. Namun pihak kepolisian, masih terlihat berjaga-jaga di beberapa lokasi di daerah tersebut.
Keberutalan geng motor mulai tak mampu diatasi pihak kepolisian. Saban hari ada saja warga menjadi korban. Terbaru, pasangan lesbi Anisma alias Boy (17) dan Chairum (17) dirampok di Jalan Juanda, depan Hotel Pardede. Korban diancam pakai kelewang.

Ilustrasi
Perampokan itu bermula saat Boy dan Chairum pulang nongkrong di warkop Jalan Gajah Mada. Namun di tengah perjalanan, pasangan yang ngekos di Sungai Mati, Brigjen Katamso ini dihadang sepuluh anggota geng motor.

Keduanya mengaku diancam pakai klewang sehingga pasrah menyerahkan Mio putih BL 5576 FP. Karena ketakutan, Anisma alias Boy pulang ke Langsa Aceh untuk mengabarkan perampokan yang dialaimnya kepada keluarganya. Akhirnya Boy kembali ke Medan untuk membuat laporan, Kamis (14/3).

“Kami lewat di depan Hotel Pardede bang mau ke Jl. Katamso, langsung dijegat kami. Diacungkan kelewang ke kepalaku, terus kereta diambil lah. Siap dirampok aku langsung ke kampung bang melapor. Aku takut, dikira pula nanti menjual kereta itu,” terang Boy.

Ditemani orangtuanya, Thamrin (50) warga Desa Belang Paseh, Boy dan pasangan lesbinya melapor ke Polsek Medan Baru. Kapolsek Medan Baru Kompol Jean Calvijn Simanjuntak ketika dikonfirmasi mengatakan akan memeriksa laporan korban. “Saya cek dulu ya,” katanya.

Selain terkejut mendengar kabar anaknya dirampok, Cut, ibu kandung Boy, juga tak menyangka dengan perubahan gaya anak gadisnya itu. Dandanan Anisma yang nyaris 100 persen menyerupai pria membuat ayahnya Thamrin Sulaiman dan ibunya Cut terkejut. “Saya terkejut lah, macam laki-laki dia sewaktu datang ke Langsa. Dia tampak lemas gitu, rupanya dia baru jadi korban rampok di Medan,” kata Cut ketika ditemui di Polsek Medan Baru.

Di balik kisah perampokan itu, Boy dan Chairum punya pengalaman tersendiri. Dibalik musibah tersebut, rasa saling setia dan sependeritaan seakan dipertunjukkan pasangan sejenis ini.

Kepada POSMETRO, Chairun mengaku telah 2 tahun menjalin asmara terlarang dengan Anisma. Perkenalannya pun terjadi dikawasan taman teladan, Medan Kota. “Kami sudah lama lah bang, uda 2 tahun. Kenalnya waktu kami jumpa di taman teladan bang. Disitu kami mulai sering nongkrong samam,” kata gadis berwajah manis dan berkulit hitam manis ini.

Selama menjalin hubungan itu pula keduanya tinggal di kawasan Sungai Mati, Titi Kuning dengan mengontrak kamar. “Ya kami tinggal di Deli Tua bang, kos disana kami,” katanya lagi.

Kisah asmara ala pasangan lesbi ini seakan kian menjamur. Buktinya saja, Chairun si gadis manis ini mengaku jauh lebih nyaman berpacaran dengan Boy yang notabenenya merupakan seorang wanita. “Ya enak aja bang, nyaman aja aku sama dia. Dia bisa menjaga aku,” terangnya.

Saat ditanyai seperti apa kehidupan asmara dan hubungan seksual keduanya, dengan enteng Chairun mengatakan jika Boy lah yang menjadi si pria dan dirinya wanita, “Ya aku jadi cewek, dia jadi cowoknya lah bang,” katanya seraya tertawa.

Untuk bisa melanjutkan hidup, tak jarang Chairun dihantarkan oleh Boy untuk menemani para tamu-tamu di lokasi hiburan malam, dan dipertegas Chairun jika dirinya hanya menemani dan tak lebih. “Kalau ngawani tamu dapat uang bang, tapi cuma ngawani enggak yang lain-lain,” katanya seraya mengaku Boy selalu memperhatikannya dari kejauhan saat sedang bersama tamu.

Perbincangan POSMETRO dengan Chairun pun usai, pasalnya Anisma alias Boy tampak cemburu dan langsung mengajak kekasihnya itu masuk ke dalam mobil minibus milik ayahnya, “Ayok pulang lah kita, aku capek,” kata Boy seraya menarik kekasihnya itu. (PM)
Tujuh anggota komplotan perampok ditembak polisi saat beraksi di rumah pengusaha bahan pakaian di Jalan Gatot Subroton No.366, Medan, Sabtu (23/2) pagi. Seorang oknum polisi yang bertugas di unit Jahtanras Polresta Medan dan mantan tentara diringkus, karena terlibat.


Ketujuh pelaku yang ditembak petugas di bagian kaki, yaitu Sajudin (45), warga Banda Aceh, Yadi (32) warga Aceh Utara, Suib Muzakir (37) warga Lhoksumawe, Puji Adi (28) warga Aceh Tenggara, Ance Mahendra alias Victor (31) warga Aceh Tenggara, Hamdani Ismail alias Abu Bleh (44) warga Bireun dan Heru Pinem (23) warga Kota Cane, eks oknum tentara. Saat diringkus, Heru masih menggunakan kaus loreng dan sepatu PDL.

Begitu dilumpuhkan, ketujuh pelaku dievakuasi ke RS Brimobdasu, Jalan KH. Wahid Hasyim, untuk mendapat perawatan. Sementara, Bripka B Nababan (46) oknum polisi yang bertugas di Unit Jahtanras diringkus dari lokasi usai penggerebekan bersama dua rekannya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun POSMETRO menyebutkan, perampokan itu berlangsung saat pemilik Toko Dunia Internasional Taylor, Syahril (56) baru pulang mengantar anaknya ke sekolah, pukul 07.30 wib.

Begitu memarkirkan mobil Toyota Yaris merah BK 130 SR miliknya, tokonya kedatangan tujuh pria yang mengaku ingin menjahit baju. Kemudian para pelaku masuk ke toko. Setelah berada di dalam, beberapa pelaku langsung menodongkan pistol.

“Saya sempat terkejut tapi karena diancam mau ditembak, saya pun diam. Lalu, kami diikat dengan lakban dan dimasukan ke dalam kamar mandi,” terangnya kepada POSMETRO MEDAN.

Enam pelaku dengan bebas mengacak-acak seisi rumah, termasuk mengambil kunci mobil. Syahril dan istrinya hanya bisa berdoa dalam hati agar pelaku tak menganiaya mereka berdua.

30 menit aksi penjarahan berlangsung di dalam rumah berlantai dua, tepat di depan Jalan Pasundan, tiba-tiba terdengar tiga kali suara tembakan. Ternyata sepasukan polisi datang. Pintu yang dikunci dari dalam didobrak petugas. Para pelaku yang terkejut dengan kemunculan polisi mencoba melakukan perlawanan. Tapi polisi keburu meringkus pelaku.

“Saya dengar dari dalam perampok sempat melakukan perlawanan dan tak lama Polisi berhasil melumpuhkan mereka. Toko ini sekalian rumah kami, hanya kami tiga yang tinggal disini,” ujar Syahril saat ditemui di tokonya.

Syahril sendiri mengaku terkejut dengan kemunculan polisi. Pasalnya, dirinya tak pernah menghubungi petugas. “Saya pasrah saja dan berdoa. Mau dimatiin juga uda pasrah. Tapi sekitar 30 menit datang polisi, terus saya dengar ada suara tembakan lebih dari 3 kali,” katanya lagi seraya mengatakan banyak darah berserak di lantai satu rumahnya.

Saat ditanyai apa saja yang hilang dari kediamannya, Syahril mengaku belum mengetahuinya. “Belum tahu saya apa aja yang diambil, belum saya cek. Karena masih dalam pemeriksaan Polisi,” katanya.

Aksi melumpuhkan 7 penjahat di kediaman Syahril ternyata tak diketahui para tetangganya. Eva (35) tetangga korban yang membuka usaha warung kopi Ulee Kareng mengaku baru tahu saat pelaku dibawa keluar dari rumah Syahril.

“Aku tak tahu kalau itu rampok pak. Orang itu datang 7 orang pagi tadi. Pas masih sepilah pak, orang itu naik mobil. Satu orang sempat mesan makan disini pak, yang enamnya lagi masuk ke dalam,” kata Eva seraya mengaku tak mendengar adanya suara tembakan.

“Kedai ku ini memang biasa tempat kumpul yang rata-rata Suku Aceh bang. Para pelaku juga pernah kulihat nongkrong disini. Pas mereka masuk ke toko, aku nggak lihat, tapi sewaktu ditangkap Polisi mereka kulihat bang,” ujarnya.

Saksi lain, Dewi penghuni Hotel Novi yang tak jauh dari lokasi mengatakan bahwa 2 orang pelaku masih sempat mendekatinya dan mengatakan jika ke 7 pria tersebut sedang melakukan razia. “Tadi katanya orang itu mau razia, ya kami kira memang betul-betul mau razia lah bang. Tak taunya ini dapat kabar mereka rampok,” katanya.

Polisi langsung mengamankan pelaku bersama satu unit mobil Daihatsu Xenia silver BK 1045 ZB yang dilapis dengan BK 1505 KF (palsu) yang dipakai para pelaku untuk merampok.

Usai penangkapan ketujuh perampok, polisi berhasil meringkus 3 pria yang mangkal di warung mie aceh, tepat di depan TKP perampokan. Ketiganya diamankan saat salah seorang diantara mereka bernama Rahman menghubungi rekannya.

“Hallo bang, orang Si Mahendra dan Heru ditangkap dan ditembak. Sekarang mereka di rumah sakit Bhayangkara Medan,” ujarnya menghubungi rekannya.

Malangnya, saat itu juga beberapa petugas polisi berpakaian preman yang duduk didekatnya mendengar pembicaraan itu. Polisi pun menanyakan kepada Rahman siapa yang baru dihubunginya.

“Pertamanya dia nggak ngaku. Baru ditampar polisi, dia ngaku bang. Aku nggak tau polisi mana yang nangkap bang. Tapi mereka ditangkap berjumlah tiga orang,” ujar pedagang mie aceh pada POSMERO MEDAN di TKP, sekira pukul 13.00 siang. (PM)
Mabes Polri belum melakukan pendataan secara menyeluruh mengenai kerusakan akibat penyerangan dan pembakaran di Polres Ogan Komering Ulu (OKU) oleh raturan TNI dari Batalyon Armed 15/76, Kamis pagi, 7 Maret 2013.


Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius menyampaikan, kerugian akibat aksi penyerangan dan pembakaran masih terus didata. Namun, akibat terbakar, kondisi Polres OKU mengalami kerusakan hingga 90 persen.

"Mapolres terbakar, dua pos lantas, satu pospol atau subsektor rusak. Kemudian empat mobil terbakar, dan 70 motor rusak dan dibakar," katanya.

Hingga saat, dipastikan ada empat anggota polisi mengalami luka tusuk akibat tusukan sangkur. Dari empat korban, dua anggota dalam kondisi kritis.

"Dua korban kritis sudah diterbangkan ke Palembang. Kapolsek Martapura, Kompol Ridwan dan Briptu Berlin Mandala. Mereka mengalami luka tusuk di dada dan robek di tangan," katanya.

Empat korban luka:

1. Kapolsek Martapura, Kompol Ridwan, luka tusuk di dada.
2. Briptu Berlin Mandala, luka tusuk di dada dan tangan.
3. Aiptu Marwani luka tusuk di paha
4. Bripka M, luka bakar.
TIY (19) ditangkap polisi karena mencabuli ibu kandung sendiri. Ternyata TIY juga memerkosa empat saudara tirinya. Termasuk adik tirinya yang laki-laki.


"Baik pagi, sore, siang maupun malam pelaku selalu mencuri-curi kesempatan mencabuli keempat adik tirinya yang terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan yang masih di bawah umur itu antara 4 tahun sampai 16 tahun itu," ujar Kasat Reskrim Polresta Yogya, Kompol Dodo Hendro Kusumo saat dikonfirmasi merdeka.com Senin (4/3).

Kejadian itu dilakukan TIY saat rumah dalam keadaan sepi. Aksi pemuda bejat ini dilakukan karena kebanyakan nonton video porno.

Pencabulan ini, ungkap Dodo terjadi secara berulang-ulang dan tidak diketahui oleh kedua orangtua mereka.

Saat ini kasus pencabulan ditangani secara intensif oleh petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polresta Yogyakarta.
Seorang siswi SMPN 1 Kersamanah, Garut, diduga merekam dirinya bersama seorang pemuda dalam tiga video mesum yang kemudian menyebar di antara telepon genggam sejumlah warga di Malangbong. Kini, siswi yang berinisial AN itu sudah mengundurkan diri dari SMPN 1 dan pindah ke tempat lain.


Menurut Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Kersamanah, Tatang Dahlan, sebagian guru sudah melihat tiga video mesum yang diduga diperankan AN itu. Beberapa guru, kata dia, ragu jika pemeran perempuan dalam video tersebut adalah AN.

"Memang AN pernah tercatat sebagai siswi kami tapi sudah mengundurkan diri," kata dia kepada wartawan di ruang guru SMPN 1 Kersamanah, Jalan Raya Malangbong, Garut, Selasa 5 Februari 2013.

Menurutnya, AN mengundurkan diri akhir Desember 2012 lalu dengan alasan akan masuk pondok pesantren. "Tapi belum ada ramai-ramai soal video mesum," ungkap Tatang.

Sementara itu kasus video mulai menggerkan warga Kecamatan Malangbong sejak 2 minggu terakhir, kasusnya kini sudah ditangani pihak Polsek Malangbong.

Petugas saat ini sedang memburu Rn (22), warga Kampung Cimuncang, Desa Kutanagara, Kecamatan Malangbong. Dia dikabarkan telah melarikan diri ke Jakarta dan di sana bekerja sebagai buruh bangunan.
Siti Nur Aisyah mengaku kecewa karena laporan pencabulan anaknya belum juga ditindaklanjuti oleh Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. Nyaris sebulan, laporan pelecehan putrinya HR (7 tahun) tak ada kemajuan.


"Saya lapor pada tanggal 14 Januari 2013 lalu," katanya, Selasa 5 Februari 2013. Laporan polisi itu bernomor STTPL/0061/B/2013/Jatim/Restabes Surabaya.

Siti menuturkan, peristiwa itu terjadi saat anaknya bermain di rumah tetangga. Entah apa yang terjadi, HR kemudian pulang sambil menangis. Diduga, HR dicabuli seorang pria berinisial S (65), warga Jl. Lumumba Dalam II, Surabaya, tetangganya.

"Saat saya tanya, anak saya mengatakan disuruh memegang alat kelamin lelaki itu berulang kali. Tangannya juga menggeranyangi kemaluan anak saya," kata Siti sambil mendekap anaknya.

Mendapati pengakuan mengagetkan itu, Siti kemudian melapor ke Polrestabes Surabaya. Namun, hingga saat ini polisi belum juga bertindak.

Siti, yang bekerja sebagai buruh cuci, mengatakan sebelum kejadian ini anaknya selalu riang, namun kini sikapnya berubah. Tiap kali beraktivitas dia selalu minta ditemani. Ini tidak seperti biasanya. Menurut dia, anaknya trauma dengan pelecehan itu.

Dikonfirmasi soal itu, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Suparti mengatakan dia masih menanyakan status laporan ini ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polrestabes Surabaya. "Sebentar, nanti telepon lagi saja," katanya saat dihungi lewat telepon selulernya. Namun, beberapa saat seelah ditelepon balik, Suparti kembali mengatakan masih akan menanyakannya ke Unit PPA. "Oh, kasus itu ya. Sebentar saya tanyakan dulu ke PPA."
Jajaran aparat Reskrim Polsek Babakan Madang, Kabupaten Bogor berhasil meringkus seorang ibu yang menggelapkan 58 unit mobil. Penangkapan terhadap pelaku dilakukan berdasarkan pengaduan dari masyarakat.


"Saat ini kita masih mencari suami tersangka yang diduga terlibat kasus ini," kata Kapolsek Babakan Madang, AKP Lugito pada detikcom, Senin (2/7/2012).

Tersangka diketahui bernama Nina Adriyani (32). Modus yang dilakukan pelaku adalah dengan membujuk calon korbannya yang hendak menyewa mobil agar menggunakan jasanya. Pelaku lalu menggunakan jasa rental rekannya untuk menyediakan mobil tersebut. Setelah jangka waktu pinjaman habis, pelaku lalu menggadaikan mobil tersebut ke orang lain.

Sebanyak 58 korban telah ditipu oleh pelaku yang merupakan warga Kampung Pisang, Desa Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Pelaku juga tercatat sebagai direktur CV Amanah Sejati.

Tersangka biasanya menggadaikan mobil sebesar Rp 20-35 juta rupiah. Tersangka ditangkap oleh Reskrim Polsek Babakan Madang setelah aparat memancingnya.

Dari hasil penangkapan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti sebanyak 14 unit mobil hasil penipuan. Pelaku dijerat dengan pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.
Seorang narapidana kasus pembunuhan di Inggris nekat melarikan diri dari penjara demi mengunjungi ibundanya yang sakit. Setelah kabur selama 2 hari, pria berusia 64 tahun ini ditangkap polisi di dekat tempat ibunya dirawat.

Seperti dilansir oleh mirror.co.uk, Senin (2/7/2012), John Massey (64) berhasil melarikan diri dari Penjara Pentonville pada Rabu (27/6) malam, dengan memanjat pagar penjara. Kepolisian pun berusaha mencari jejak Massey yang divonis penjara seumur hidup ini.

Hingga akhirnya pada Jumat (29/6) kemarin, polisi membekuk Massey di sebuah cottage di wilayah Faversham, Kent, yang terletak dekat dengan tempat sang ibunda, May, dirawat. Diketahui bahwa ibunda Massey yang berusia 86 tahun ini, menderita penyakit alzheimer parah.

Selain menangkap Massey, polisi juga menangkap seorang pria berusia 70 tahun yang saat itu berada di dalam rumah bersama Massey. Diduga, pria tersebut telah membantu upaya pelarian Massey.

Beberapa warga setempat mengakui melihat sejumlah polisi bersenjata mengerebek rumah tersebut melalui taman dan sejumlah polisi lainnya bersembunyi di gang kecil. Namun upaya pembekukan Massey ini tak berlangsung lama dan tanpa perlawanan.

"Saya pikir tidak ada perlawanan sama sekali karena semuanya berlangsung cukup cepat," ucap warga yang enggan disebut namanya tersebut.

Secara terpisah, seorang kerabat ibunda Massey mengakui bahwa sejak beberapa hari terakhir May terus memanggil-manggil nama putranya tersebut. "May sudah sangat lanjut usia saat ini, dia sudah memasuki usia 80-an tahun, dan dia menderita alzheimer. Dia terus menangis dan minta bertemu dengan John (Massey)," ucapnya.

Massey yang dikenal sebagai salah satu narapidana dengan masa hukuman terlama di Inggris ini, dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan seorang pria di sebuah pub di Hackney, London Timur. Pada tahun 1976 silam, Massey dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Sementara itu, pihak penjara tengah melakukan investigasi menyeluruh atas insiden kaburnya Massey, termasuk dengan menanyai sejumlah sipir penjara. "Kami selalu mejatuhkan hukuman terberat bagi mereka yang melarikan diri atau berusaha untuk kabur dari penjara," tutur juru bicara penjara tersebut.
Perampokan terjadi di Pasar Tempel Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung, Minggu siang (1/7/2012). Enam orang perampok menggasak emas dan uang tunai di empat toko yang letaknya berdampingan di pasar tersebut.

Toko emas yang dirampok adalah Toko Emas Baru, Perihiasan Dhian Silver, Toko Emas Ilham, serta Toko Emas Mulia Jaya 99. Perampok bersenjata api itu berhasil membawa kabur 3 Kg emas dan uang tunai hingga Rp100. Total kerugian mencapai hingga Rp 1 miliar.

Kapolresta Bandar Lampung Kombes M Nurochman membenarkan adanya perampokan toko emas yang terjadi di siang bolong. “Pelaku berjumlah enam orang, tapi hanya dua orang yang membawa senjata api,” kata Nurochman ketika dihubungi detikcom, Senin (2/7/2012).

Menurut Nurochman, pelaku sangat berani dan terlatih karena beraksi pada saat kondisi pasar sedang ramai oleh pembeli. “Jika dilihat dari jumlah kerugian, perampokan toko emas ini menjadi yang terbesar,” kata dia.

Dia mengungkapkan, para pelaku naik kendaraan bermotor. Dua orang menjaga di dekat motor, dan sisanya yang masuk ke toko emas. Untuk menakuti petugas keamanan pasar dan penjaga toko, perampok beberapa kali melepaskan tembakan ke atas. Bahkan, pelaku juga sempat melukai salah satu penjaga toko.

Nurochaman menduga para pelaku adalah para perampok lokal yang memang kerap beraksi di Lampung. “Para pelaku diperkirakan masih di Lampung belum kabur ke luar daerah. Polisi masih terus memburu para pelaku. Semuanya masih dalam pengembangan. Kita juga belum bisa memastikan apakah ada kesamaan dengan parampok toko emas di Pulau Jawa,” kata dia.
Peperangan antar-geng motor besar di Sydney, Australia, mulai mengkhawatirkan. Warga yang tak berdosa, termasuk bayi, hampir jadi korban.

Sejak dua bulan terakhir, angka kekerasan geng motor di Sydney memang meningkat. Untuk tahun ini saja, terjadi 60 kali peristiwa penembakan di jalanan.



Asisten Komisioner Polisi Sydney, Mal Lanyon mengatakan, kelompok geng motor itu memang bagian dari sejarah kriminal di Australia. "Kami mengklasifikasikan grup tersebut sebagai kriminal," kata Lanyon kepada Sky News, Selasa (3/7/2012).

"Ada sejumlah isu yang melatarbelakangi insiden ini, di antaranya persaingan narkoba dan perselisihan antar-anggota," sambngnya.

Kasus terakhir yang menjadi perhatian publik di negeri Kanguru adalah peristiwa penembakan di kediaman seorang bayi berumur dua bulan. Anak kecil itu nyaris tewas terkena sambaran peluru dari anggota geng yang sedang berperang. Untunglah dia berhasil diselamatkan.

Kepolisian New South Wales saat ini sedang menelusuri bisnis dan markas para anggota geng. Aturan perundangan juga sedang digodok oleh pemerintah khusus mengenai geng motor.
Masyarakat diimbau waspada terkait maraknya modus penipuan dan penculikan dengan motif polisi gadungan. Warga diminta jangan ragu-ragu untuk meminta kartu anggota jika berurusan dengan polisi.

"Selain itu minta juga surat izin pemanggilan jika memang dipanggil, dan itu diperbolehkan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, saat dihubungi detikcom, Senin (1/7/2012).

Warga juga boleh meminta anggota Polsek setempat untuk hadir jika rumahnya didatangi petugas kepolisian. Hal itu diperlukan agar warga tidak dirugikan akibat ulah polisi gadungan.

"Bisa juga telepon Polsek setempat jika merasa curiga. Supaya anggota Polsek terdekat akan melakukan pengawalan," jelasnya.

Sebelumnya aksi polisi gadungan kerap menimbulkan keresahan masyarakat, seperti yang dialami warga negara Korea, Lim Heon Ok (45). Dirinya diperas US$ 3.000 dolar dan Rp 60 juta oleh 9 orang yang mengaku anggota polisi. Usai diperas wanita itu dibuang di daerah Jakarta Barat.
Copyright © 2010 - 2014. Demo - All Rights Reserved
Hosting by : Blogger - Nazuka.net
Template inspired by detikcom
Editing by TAMORANETWORK